12/25/2011

Manokwari Babak 1

Perjalanan diakhir tahun 2011 di sebuah pulau di ujung timur Indonesia, bukan cerita apa yang telah dikerjakan disana karena cepat atau lambat cerita itu akan dapat dibaca di situs lain , babak satu dan babak lanjutan dari babak ini (itupun jika ada) akan lebih bercerita tentang cerita-cerita  yang akan sangat sayang apabila dibuang begitu saja. tokoh dalam babak ini adalah saya sendiri dan nanang, untuk lebih jauh mengetahui nanang dapat dibaca di situsnya.

Semboyan



Kami berangkat ke kota ini menggunakan maskapai, singo edan alias Lion Air, dari bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Penerbangan kali ini mungkin pertama kalinya saya terbang dari Jakarta tanpa mengalami masalah ketiduran dan keterlambatan , berangkat pukul 06.00 kami di terbangkan menuju Bandara Sultan Hasannudin Makassar, perjalanan dari Tangerang ke makassar menempuh waktu kurang lebih dua jam terbang. Komentar nanang pertama kali ketika duduk di kabin pesawat adalah "Ini kabinnya gak selega Garuda ya ka.." saya timpali " ya jelas pak bos, sesuai dengan semboyannya Lion air make people fly, jadi intinya membuat orang-orang terbang, bukan nyaman hehe".


Pada penerbangan ini kami tidak mendapatkan sarapan pagi karena kami di kelas ekonomi saya tidak tahu apakah di kelas bisnis yang ada di depan dapat atau tidak, seingat saya merpati dan garuda meskipun kelas ekonomi disana dapat makan ya kembali lagi pada semboyan Lion Air, "Make People Fly" jadi lagi-lagi tidak dapat disalahkan, untungnya saya saat itu ngantuk berat setelah semalaman begadang supaya tidak terlambat ke bandara, dan hal tersebut berbuah manis, dan saya akhirnya memutuskan untuk tidur saja. yang sempat saya nilai lebih baik adalah Lion Air pramugarinya lebih muda dari Garuda saya rasa itulah satu-satunya hiburan yang ada selama penerbangan

mungkin semboyan itu juga yang membuat maskapai ini dapat mengeruk untung semaksimal mungkin dengan memberikan jarak antar tempat duduk yang sangat sempit, dan terbang jauh tanpa makan. meskipun dengan pesawat baru tapi tidak berpengaruh pada keadaan didalam kabin yang masih saja sempit. penambahan maskapai baru yang di gembor-gemborkan di media saya rasa untuk memaksimalkan keuntungan bukan untuk menambah kenyamanan. namanya juga bisnis yang berlaku selalu prinsip ekonomi, selain itu masyarakat umum juga sepertinya lebih mempertimbangkan harga murah yang ditawarkan daripada kenyamanan saat di perjalanan.

Roti Boy

Sesampai di Bandara Hasanuddin makassar ternyata pesawat yang akan membawa kami ke pemberhentian selanjutnya masih menunggu sekitar satu jam di bandara. Pertama masuk di bandara makassar, setelah lapor ke bagian transit yang kami cari adalah Roti Boy, roti yang aromanya legendaris itu, tapi karena kami datang kepagian ternyata kiosnya belum buka, akhirnya kami beli roti seadanya. kemudian kami lanjut duduk-duduk menunggu sambil menikmati roti "seadanya" dan suguhan atraksi pesawat Sukhoi dari kejauhan.



Setelah kami menunggu beberapa lama, kami memutuskan untuk masuk ke ruang tunggu sambil jalan sambil nengok ke kios Roti Boy, siapa tahu sudah buka, dan benar dugaan kami kiosnya memang sudah buka kami langsung membeli 4 buah untuk bekal selama penerbangan, lokasi transit selanjutnya adalah bandara Pattimura Ambon. akhirnya pesawat yang harus kami tumpangi datang dan kami naik ke pesawat untuk menuju Ambon.

Menuju Ambon kami masih menaiki pesawat Lion Air, perjalanan ditempuh kira-kira 90 menit terbang. diatas perairan menuju ambon ternyata kondisinya lebih berawan sehingga pesawat sempat beberapa kali mengalami guncangan, ini hal yang jarang dirasakan apabila kita terbang di daerah Indonesia bagian barat, salah seorang kawan pernah mengatakan itu berarti kita sudah diluar laut jawa, ini penerbangan ketiga saya dari jakarta menuju Indonesia timur. nanang melanjutkan tidurnya di pesawat pada penerbangan menuju Ambon, saya memasang headset dan mulai mendengarkan musik dari ponsel saya.

Sekitar setengah jam penerbangan nanang terbangun mungkin karena lapar akhirnya kami makan roti boy. aroma roti boy yang kami bawa ternyata masih kuat sekali. setelah kami selesai makan masing-masing satu buah roti boy, karena kami pikir aromanya yang kuat dapat mengganggu penumpang lain akhirnya kami makan semua sisanya. setelah itu baru kami rasakan enaknya Roti Boy itu ternyata hanya pada  roti saja, cobalah makan 2 sekaligus kita akan langsung merasa enek alias ga mau lagi. entah apa yg membuat itu terjadi, tapi saya rasa ada rasa seperti kelapa yang terlalu gurih itu mungkin yang membuat rasa roti boy jadi aneh setelah yang kedua.

Pattimura






Akhirnya pun kami mendarat di bandara Pattimura Ambon. bandaranya kecil landasannya pendek namun tertata sangat rapi, didalamnya ada eskalator, lorong-lorongnya ber AC, hal ini jarang saya temui di bandara-bandara dengan ukuran serupa di Indonesia. kotanya sepertinya senyaman bandaranya, ah tapi saya tidak tahu pasti, karena kami memang tidak sempat berlama-lama disini karena setelah antri lapor transit yang cukup memakan waktu, ternyata setelahnya kami langsung diminta untuk menuju pesawat. dan kami akan menuju langsung bandara Rendani Manokwari

Twin Otter



Dari Ambon menuju Manokwari kami berpindah pesawat lagi yang tadinya menggunakan pesawat jet komersial, kali ini kami berpindah ke sebuah pesawat model twin otter, pesawat yang tidak seberapa besar dan menggunakan baling - baling ganda di kedua sayapnya. ini pengalaman pertama kali saya menggunakan pesawat model ini. seru juga akhirnya menginjakkan kaki di pesawat dengan model seperti ini. Pesawat ini milik maskapai Wings air yang merupakan anak perusahaan dari Maskapai Lion Air. jarak antar tempat duduk di pesawat ini lebih longgar dan bersusun 2-2, didalam kabin saya merasa lebih nyaman.

Seperti pada maskapai Induknya pesawat ini juga menggunakan pramugari yang masih muda yang saat akan terbang dan mendarat akan duduk tepat di ujung lorong bagian depan. pada maskapai ini kita juga jangan berharap mendapatkan makanan snack bahkan permen karena itu tidak akan kita dapatkan jadi untuk perjalanan yang lebih jauh ada baiknya kita bawa makanan sendiri supaya tidak kelaparan.

Rendani






Akhirnya kami mendarat di bandara Rendani di Manokwari papua waktu itu jam menunjukkan kira-kira pukul 18.00 waktu setempat, ya kini kami berada di Indonesia timur. ini adalah pertama kalinya saya ke ibu kota provinsi Papua Barat ini. dan kedua kalinya setelah sekitar enam bulan yang lalu saya menginjakkan kaki di Jayapura. bandara rendani memiliki landasan pacu yang pendek. setelah saya turun dan masuk ke terminal, saya baru sekali menemui bandara yang sangat sederhana seperti ini. terminalnya berupa bangunan yang terbuat dari kayu, yang langsung terhubung dengan pintu keluar, barang - barang bagasi kita nanti akan diantarkan, dan untuk pengambilannya kita akan di absen, hal ini menarik karena dengan menggunakan metode seperti ini potensi tertukarnya barang bawaan akan dapat dikurangi.

Setelah saya keluar dan melihat sekitar saya menemukan beberapa bagian bandara sedang dibangun, mungkin nantinya bandara Rendani setelah pembangunan tersebut selesai akan menjadi lebih rapi dan lebih baik. diluar bandara kita tidak akan menemukan halaman yang luas yang diparkir taksi-taksi, melainkan halaman dengan luasan secukupnya yang menjadi tempat beberapa mobil omprengan dan ojek menunggu penumpang.


0 comments: